MANAJEMEN
PENDIDIKAN
Manajemen
pendidikan adalah keseluruhan (proses) yang membuat sumber-sumber personil dan
materiil sesuai yang tersedia dan efektif bagi tercapainya tujuan-tujuan
bersama. Ia mengerjakan fungsi-fungsinya dengan jalan mempengaruhi perbuatan
orang-orang. Proses ini meliputi perencanaan, organisasi, koordinasi,
pengawasan, penyelenggaraan dan pelayanan dari segala sessuatu mengenai urusan
sekolah yang langsung berhubungan dengan pendidikan seklah seperti kurikulum,
guru, murid, metode-metode, alat-alat pelajaran, dan bimbingan. Juga soal-soal
tentang tanah dan bangunan sekolah, perlengkapan, pembekalan, dan pembiayaan
yang diperlukan penyelenggaraan pendidikan termasuk didalamnya.
A. Pengertian Manajemen
Kata
manajemen bersal dari bahasa latin , yaitu dari asal kata mantis yang
berarti tangan dan agree yang berarti melakukan. Kata-kata itu digabung
menjadi kata kerja managere yang artinya menangani. Managere diterjemahkan ke
dalam bahasa inggris dalam bentuk kata kerja to manage, dengan kata benda
management, dan manager untuk orang yang melakukan kegiatan manajemen. Akhirnya
management diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi manajemen atau
pengelolaan.[1]
Secara
etimologi kata manajemen mungkin berasal dari bahasa Italia (1561) maneggiare yang berarti "mengendalikan," terutama
dalam konteks mengendalikan kuda, yang berasal dari bahasa latin manus
yang berarti "tangan".[2] Bahasa Prancis lalu mengadopsi kata ini dari bahasa Inggris menjadi ménagement,
yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur.[3]
Pengertian
manajemen secara terminologi sebagai mana dikemukakan oleh Taylor (1974: 02
)adalah : Management, the art of management is defined as knowing exactly what
you want to do, and then seing that they do in the best and cheapest
way.”Manajement adalah seni yang ditentukan untuk mengetahui dengan
sungguh-sungguh apa yang ingin kamu lakukan , dan mengawasi bahwamereka mengerjakan
sesuatudengan sebaik- baiknya dan dengan cara semudah-mudahnya”. [4]
Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai
sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan
sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. Efektif berarti
bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti
bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan
jadwal.[5]
Apabila ditinjau dari definisi-definisi yang lain,
pengertian manajemen tersebut masih dapat diartikan untuk semua jenis kegiatan,
yang dapat diambil suatu kesimpulan definisi yaitu :
“Manajemen adalah rangkaian segala kegiatan yang
menunjuk kepada usaha kerjasama antara dua orang atau lebih untuk mencapai
suatu tujuan yang telah ditetapkan”.
Definisi lain dari manajemen yang lebih lengkap
sebagaimana dikemukakan oleh Mulyani A. Nurhadi adalah sebagai berikut :
“Manajemen adalah
suatu kegiatan atau rangkaian kegiatan yang berupa proses pengelolaan usaha
kerjasama sekelompok manusia yang tergabung dalam organisasi pendidikan, untuk
mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya, agar efektif dan
efisien”.
Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan
bahwa di dalam pengertian
manajemen selalu menyangkut adanya tiga hal yang
merupakan unsur penting, yaitu:
a) Usaha kerjasama,
b) Oleh dua orang atau lebih, dan
c) Untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
Dalam pengertian tersebut
sudah menunjukkan adanya gerak, yaitu usaha kerjasama, personil yang melakukan,
yaitu dua orang atau lebih, dan untuk apa kegiatan dilakukan, yaitu untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tiga unsur tersebut, yaitu gerak, orang,
dan arah dari kegiatan, menunjukkan bahwa manajemen terjadi dalam sebuah
organisasi, bukan pada kerja tunggal yang dilakukan oleh seorang individu.
B.
Pengertian Manajemen
Pendidikan
1. Pengertian Manajemen Pendidikan Secara Umum
Manajemen Pendidikan dalam kamus bahasa Belanda-Indonesia disebutkan bahwa
istilah manajemen berasal dari “administratie” yang berarti tata-usaha. Dalam
pengertian manajemen tersebut, administrasi menunjuk pada pekerjaan
tulis-menulis di kantor. Pengertian inilah yang menyebabkan timbulnya
contoh-contoh keluhan kelambatan manajemen yang sudah disinggung, karena
manajemen dibatasi lingkupnya sebagai pekerjaan tulis-menulis.
2. Pengertian Manajemen Pendidikan Menurut Ahli
1. Menurut Leonard D. White, manajemen adalah segenap proses, biasanya
terdapat pada semua kelompok baik usaha negara, pemerintah atau swasta, sipil
atau militer secara besar-besaran atau secara kecil-kecilan.
2.
Menurut The Liang Gie,
manajemen adalah segenap proses penyelenggaraan dalam setiap usaha kerjasama
sekelompok manusia untuk mencapai tujuan tertentu.
Lebih lanjut Mulyani A.
Nurhadi menekankan adanya ciri-ciri atau pengertian Manajemen
Pendidikan yang terkandung dalam
definisi tersebut sebagai berikut :
- Manajemen merupakan kegiatan atau rangkaian kegiatan yang dilakukan dari, oleh dan bagi manusia.
- Rangkaian kegiatan itu merupakan suatu proses pengelolaan dari suatu rangkaian kegiatan pendidikan yang sifatnya kompleks dan unik yang berbeda dengan tujuan perusahaan untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya ; tujuan kegiatan pendidikan ini tidak terlepas dari tujuan pendidikan secara umum dan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan oleh suatu bangsa.
- Proses pengelolaan itu dilakukan bersama oleh sekelompok manusia yang tergabung dalam suatu organisasi sehingga kegiatannya harus dijaga agar tercipta kondisi kerja yang harmonis tanpa mengorbankan unsur-unsur manusia yang terlibat dalam kegiatan pendidikan itu.
- Proses itu dilakukan dalam rangka mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, yang dalam hal ini meliputi tujuan yang bersifat umum (skala tujuan umum) dan yang diemban oleh tiap-tiap organisasi pendidikan (skala tujuan khusus).
- Proses pengelolaan itu dilakukan agar tujuannya dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Tujaun pokok mempelajari
manajemen pendidikan adalah untuk memperoleh cara, tekhnik, metodeyang
sebaik-baiknya di lakukan, sehingga sumber-sumber yang sangat terbatas (
seperti tenaga, dana, fasilitas, personal, material, maupun spritual ) sanangat
diperlukan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efisien dan produktif.
C. Latar Belakang Diperlukannya Manajemen Pendidikan
Manajemen
dalam pendidikan diperlukan untuk mengantisipasi perubahan global disertai oleh
kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi informasi. Perubahan itu sendiri sangat
cepat dan pesat, sehingga perlu ada perbaikan yang berkelanjutan (continous
improvement) di bidang pendidikan sehingga output pendidikan dapat bersaing
dalam era globalisasi seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
khususnya teknologi informasi. Persaingan tersebut hanya mungkin dimenangkan
oleh lembaga pendidikan yang tetap memperhatikan kualitas/mutu pendidikan
dalam pengelolaannya.
Suatu
sistem pendidikan dapat dikatakan berkualitas/bermutu, jika proses
belajar-mengajar berlangsung secara menarik dan menantang sehingga peserta
didik dapat belajar sebanyak mungkin melalui proses belajar yang
berkelanjutan. Proses pendidikan yang bermutu akan membuahkan hasil
pendidikan yang bermutu dan relevan dengan pembangunan.Untuk mewujudkan
pendidikan yang bermutu dan efisien perlu disusun [6]dan dilaksanakan program-program pendidikan yang mampu
membelajarkan peserta didik secara berkelanjutan, karena dengan kualitas
pendidikan yang optimal, diharapkan akan dicapai keunggulan sumber daya manusia
yang dapat menguasai pengetahuan,keterampilan dan keahlian sesuai dengan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang.
Oleh karena itu demi tercapainya tujuan pendidikan
yang berkualitas, diperlukan manajemen pendidikan yang dapat menggerakkan
segala sumber daya pendidikan.Manajemen pendidikan itu terkait dengan manajemen
peserta didik yang isinya merupakan pengelolaan dan juga pelaksanaannya.
Menurut Handoko pentingnya manajemen dalam kehidupan
ini disebabkan beberapa hal, antara lain:
a. Pekerjaan itu berat dan
sulit untuk dikerjakan sendiri sehingga diperlukan pembagian kerja.
b. Perusahaan akan berhasil
baik jika manajemen diterapkan dengan baik.
c. Manajemen merupakan suatu
pedoman pikiran dan tindakan.
d. Manajemen perlu untuk
kemajuan dan pertumbuhan.
e. Manajemen mengakibatkan
pencapaian tujuan secara teratur.
f. Manajemen selalu dibutuhkan
dalam setiap kerjasama sekelompok orang.
D.
Paradigma
Mengelola Pendidikan
Pada era reformasi, masyarakat Indonesia menginginkan
perubahan dalam semua aspek kehidupan bangsa. Pembaharuan pada sektor
pendidikan yang memiliki peran strategis dan fungsional , juga memerlukan paradigma baru yang harus menekankan
pada perubahan cara berpikir dalam pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan.
Pendidikan yang telah berjalan selama ini tidak bisa menjadi penggerak
pembangunan di Indonesia, malahan pendidikan telah menghambat pembangunan
ekonomi dan teknologi, buktinya adalah dengan adanya kesenjangan sosial,
budaya, dan ekonomi. Berbagai masalah yang timbul tersebut diakibatkan oleh
semakin lemahnya pendidikan nasional. Pembaharuan pendidikan nasional yang
telah mendasar dan menyeluruh harus dimulai dari mencari penjelasan baru atas
paradigma dan peran pendidikan dalam pembangunan . Paradigma
tersebut harus berimplikasi pada perubahan perspektif dalam pembangunan
pendidikan, mulai dari perspektif yang menganggap pendidikan sebagai sektor
pelayanan umum ke perspektif pendidikan sebagai suatu investasi produk yang
mampu mendorong pertumbuhan masyarakat di berbagai bidang kehidupan. Pendidikan
sebagai faktor yang dipengaruhi oleh berbagai permasalahan yang terjadi dalam
berbagai kehidupan.
Melalui paradigma baru tersebut, dimaksudkan
pendidikan harus mampu melawan berbagai tantangan dan permasalahan yang terjadi
dalam lingkungan kehidupan. Pendidikan dan kehidupan telah menyatu, maka
pendidikan dapat dikatakan sebagai proses memanusiakan manusia.
Berikut ini adalah langkah-langkah untuk melakukan rekonstruksi
pendidikan dalam rangka membangun paradigma baru sistem pendidikan nasional :
1. Pendidikan nasional hendaknya
memiliki visi yang berorientasi pada demokratisasi bangsa.
2. Pendidikan nasional hendaknya
memiliki misi agar tercipta partisipasi masyarakat secara menyeluruh.
Pendidikan tidak hanya terfokus dalam penyiapan tenaga kerja, tapi untuk
memperkuat kemampuan dasar pembelajar sehingga memungkinkan baginya untuk
berkembang lebih jauhdalam konteks kehidupan global.
3. Substansi pendidikan dasar
hendaknya mengacu pada perkembangan potensi dan kreativitas pembelajar.
Pendidikan mengengah dan tinggi hendaknya diarahkan pada membuka kemungkinan
pengembangan kepribadian secara vertikal (keilmuan) dan horisontal (keterkaitan
antar bidang keilmuan).
4. Pendidikan dasar dan menengah
perlu mengembangkan sistem pembelajaran yang egaliter dan demokratis agar tidak
terjadi pengelompokan kelas atas dasar kemampuan akademik.
5. Pendidikan tinggi harus
mempersiapkan dan memperkuat kemampuan dasar mahasiswa untuk memungkinkan
mereka berkembang baik secara individu, anggota msyarakat, maupun sebagai warga
negara dalam konteks global.
6. Kebijakan kurikulum untuk
mencapai tujuan pendidikan nasional, harus memperhatikan tahap perkembangan
pembelajar dan kesesuaian dengan lingkungan, perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, budaya, seni serta sesuai dengan jenjang masing-masing satuan
pendidikan dengan mengembangkan proses pembelajaran kreatif.
7. Perlu
mengaktualisasikan enam unsur kapasitas belajar, yaitu:
· Kepercayaan
(confidence)
· Keingintahuan
(curioucity)
juan (intensionality)
· Kendali diri (self
control)
· Mampu bekerja sama
(work together)
kemampuan bergaul
secara harmonis dan saling pengertian (relatedness)
8.
Untuk
menjaga relevansi outcome pendidikan, dengan mengimplementasikan filsafat
rekonstruksivisme dalam berbagai tingkat kebijakan dan praktisi pendidikan.
9.
Pendidikan
nasional hendaknya mendapatkan proporsi alokasi dana yang cukup memadai.
10. Realisasi pendidikan
dalam konteks lokal diperlukan badan-badan pembantu dalam dunia pendidikan.
Misalnya saja ‘Dewan Sekolah’ yang memiliki peran untuk memberi masukan-masukan
dalam berbagai aspek.
11. Menetapkan model
rekruitmen pejabat pendidikan secara profesional. Kompetensi dan sertifikasi
guru dan dosen juga harus dilakukan dengan profesional. Pemerintah harus
membentuk badan ‘independen’ profesi guru dan dosen yang anggotanya terdiri
dari tenaga kependidikan profesional, terpercaya, dan bertanggung jawab
yang akan menilai kompetensi profesional, keilmuan, personal dan sosial dari
guru dan dosen.
Paradigmanya adalah manajemen pendidikan harus sejalan
dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman. Maka dinyatakan School
Based Manajement (SBM) sebagai alternatif paradigma baru, dengan pendekatan
akar rumput (grass root approach).[7]
Untuk mencapai terselenggaranya pendidikan bermutu,
dikenal dengan paradigma baru
manajemen pendidikan yang difokuskan pada otonomi, akuntabilitas, akreditasi dan
evaluasi. Keempat pilar manajemen ini diharapkan pada akhirnya mampu menghasilkan
manajemen pendidikan yang difokuskan pada otonomi, akuntabilitas, akreditasi dan
evaluasi. Keempat pilar manajemen ini diharapkan pada akhirnya mampu menghasilkan
pendidikan bermutu (Wirakartakusumah,
1998)
E.
Unsur-Unsur Utama Dalam Proses
Manajemen
Dalam
manajemen terdapat unsur-unsur atau komponen-komponen yang membuatnya menjadi
suatu proses yang berifat mengatur dan mengontrol, unsur tersebur seperti:
1. Perencanaan: adalah suatu
aktivitas integratif yang berusaha memaksimumkan efektivitas seluruhnya dari
suatu organisasi sebagai suatu sistem, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai[8]. Planning menentukan
tujuan-tujuan yang hendak dicapai selama suatu masa yang akan datang dan apa
yang harus diperbuat agar dapat mencapai tujuan-tujuan itu.[9]
2. Pengorganisasian: membuat penggunaan maksimal dari sumberdaya yang dibutuhkan untuk
melaksanakan rencana dengan baik. Organizing berarti menciptakan suatu struktur organisasi dengan bagian-bagian yang
terintegrasi sedemikian rupa sehingga hubungan antarbagian-bagian satu sama
lain dipengaruhi oleh hubungan mereka dengan keseluruhan struktur tersebut. Pengorganisasian bertujuan membagi suatu kegiatan
besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Selain itu, mempermudah
manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk
melaksanakan tugas-tugas.
3. Leading/Kepemimpinan dan motivasi: memakai kemampuan di area ini untuk membuat yang lain
mengambil peran dengan efektif dalam mencapai suatu rencana. Actuating adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok
berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan
usaha-usaha organisasi. Jadi actuating artinya adalah menggerakkan
orang-orang agar mau bekerja dengan sendirinya atau penuh kesadaran secara
bersama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif. Dalam hal
ini yang dibutuhkan adalah kepemimpinan (leadership).
4. Pengendalian: monitoting memantau kemajuan rencana, yang mungkin membutuhkan perubahan
tergantung apa yang terjadi. Controlling adalah proses pengawasan
performa perusahaan untuk memastikan bahwa jalannya perusahaan sesuai dengan
rencana yang telah ditetapkan. Seorang manajer dituntut untuk menemukan masalah
yang ada dalam operasional perusahaan, kemudian memecahkannya sebelum masalah
itu menjadi semakin besar mengevaluasinya.
Manajemen pendidikan adalah keseluruhan (proses) yang
membuat sumber-sumber personil dan materiil sesuai yang tersedia dan efektif
bagi tercapainya tujuan-tujuan bersama. Manajemen dalam pendidikan diperlukan
untuk mengantisipasi perubahan global disertai oleh kemajuan ilmu pengetahun
dan teknologi informasi. Perubahan itu sendiri sangat cepat dan pesat, sehingga
perlu ada perbaikan yang berkelanjutan (continous improvement) di bidang
pendidikan sehingga output pendidikan dapat bersaing dalam era globalisasi
seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi
informasi. Persaingan tersebut hanya mungkin dimenangkan oleh lembaga
pendidikan yang tetap memperhatikan kualitas/mutu pendidikan
dalam pengelolaannya.
Suatu
sistem pendidikan dapat dikatakan berkualitas/bermutu, jika proses
belajar-mengajar berlangsung secara menarik dan menantang sehingga peserta
didik dapat belajar sebanyak mungkin melalui proses belajar yang
berkelanjutan. Proses pendidikan yang bermutu akan membuahkan hasil pendidikan
yang bermutu dan relevan dengan pembangunan.Untuk mewujudkan pendidikan
yang bermutu dan efisien perlu disusun [10]dan dilaksanakan
program-program pendidikan yang mampu membelajarkan peserta didik secara
berkelanjutan, karena dengan kualitas pendidikan yang optimal, diharapkan akan
dicapai keunggulan sumber daya manusia yang dapat menguasai pengetahuan,keterampilan
dan keahlian sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
terus berkembang.
Oleh karena itu demi tercapainya tujuan pendidikan
yang berkualitas, diperlukan manajemen pendidikan yang dapat menggerakkan
segala sumber daya pendidikan.Manajemen pendidikan itu terkait dengan manajemen
peserta didik yang isinya merupakan pengelolaan dan juga pelaksanaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar